Harapan Bosch Bagi Negara di ASEAN Share this
Berita Mobil
Mode baca

Harapan Bosch Bagi Negara di ASEAN

Amos Arya
oleh Amos Arya
pada 13 Maret 2017

Foto: Bosch

MANILA – Bosch meyakini teknologi yang telah dikembangkan dan diproduksi akan meningkatkan keamanan berkendara di Asia Tenggara.

Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO) jumlah kematian akibat kecelakaan sesungguhnya berkisar 117.000 per tahun di seluruh negara ASEAN. Ironisnya, korban pada rentang usia 15-19 tahun menduduki jumlah tertinggi dalam daftar tersebut.

“Kita perlu menemukan solusi berkelanjutan bagi masalah yang menyebabkan kematian pada kalangan muda di kawasan ini. Masalah ini telah merenggut nyawa ribuan penduduk dan merugikan pemerintah dari segi biaya setiap tahunnya,” kata Martin Hayes, Presiden Bosch Asia Tenggara.

Para pemimpin negara anggota ASEAN telah mengambil langkah-langkah progresif guna mengatasi ancaman yang disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas. Majelis Umum PBB telah menyatakan periode 2011 hingga 2020 sebagai ‘Dekade Aksi Keselamatan Jalan’ dengan target menstabilkan dan mengurangi tingkat kematian akibat kecelakaan lalu lintas di seluruh dunia.

“Bagi Bosch, setiap kematian yang disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas sangatlah disayangkan. Sebagai penyedia teknologi otomotif, kami percaya bahwa dampak terpenting yang dapat diciptakan oleh industri otomotif adalah memproduksi kendaraan lebih aman dan dilengkapi dengan sistem keselamatan modern,” tambah Hayes.

Selama beberapa dekade, Bosch berupaya menghasilkan teknologi unggulan dengan visi berkendara bebas kecelakaan. Anti-Lock Braking System (ABS) pertama di dunia untuk mobil berpenumpang telah dikembangkan sejak 1978. Inovasi ini memungkinkan pengendara dapat tetap mempertahankan kontrol kemudi dan memperpendek jarak pengereman tanpa tergelincir atau selip.

Pada 1995, Bosch meningkatkan teknologinya dengan mengembangkan Electronic Stability Program (ESP atau ESC) pertama di dunia yang kini tertanam pada 64 persen kendaraan baru di seluruh dunia. Di Eropa, ESP telah disematkan dan mampu menyelamatkan lebih dari 8.500 nyawa dan mencegah terjadinya lebih dari seperempat juta kecelakaan.

Sedangkan ABS sepeda motor pertama kali dikenalkan pada 1995 dan secara signifikan berhasil menurunkan risiko pengendara terjatuh, memperpendek jarak berhenti dan mengurangi risiko tabrakan. Bosch telah melakukan penelitian dan menghasilkan data bahwa jika setiap kendaraan roda dua dilengkapi fitur ABS, sekitar satu dari empat kecelakaan lalu lintas di negara-negara ASEAN dapat dicegah.

Data tersebut didukung dengan adanya fakta bahwa semakin banyak negara di dunia telah menyematkan teknologi ini. Negara-negara tersebut antara lain Uni Eropa, Jepang, Taiwan dan India.

Kendaraan yang memiliki standar keamanan tinggi, misalnya dilengkapi kantong udara, ESC atau ABS diyakini tidak hanya berfungsi untuk melindungi penumpang saja, melainkan juga membantu menyadarkan produsen lokal bahwa peluang ekspor untuk pasar otomotif masih terbuka lebar.

“Kami memahami dengan baik bahwa perbaikan dalam keamanan berkendara bukanlah sesuatu yang bisa terjadi dalam semalam. Hal ini adalah proses bertahap yang memerlukan keterlibatan banyak pihak, termasuk komunitas ilmiah, pemerintah, LSM dan industri,” tutup Hayes. [Amo/Ikh]


Komentar