Pertamina Rilis Biosolar dengan CetaNe Tinggi Share this

Pertamina Rilis Biosolar dengan CetaNe Tinggi

Ary Dwinoviansyah
oleh Ary Dwinoviansyah
pada 25 Januari 2019

PALEMBANG - BBM (bahan bakar minyak) jenis Biosolar (B-20) diklaim punya spesifikasi tinggi lantaran punya CetaNe number di atas 50.

PT Pertamina (Persero) memperlihatkan komitmennya mendukung langkah pemerintah untuk menciptakan bahan bakar ramah lingkungan khususnya jenis solar. Seperti dituangkan pada Kebijakan Pemerintah sesuai Permen ESDM No 41 Tahun 2018.

Isinya adalah badan usaha BBM wajib menerapkan penggunaan campuran Solar dengan minyak nabati (Fatty Acid Methyl Ester/FAME) sebesar 20% buatan Badan Usaha Bahan Bakar Nabati (BU BBN). Hal tersebut pun kemudian diperlihatkan Pertamina Refinery Unit III dengan memperkenalkan BBM Biosolar pertamanya di Kilang RU II Plaju.

"Launching B-20 ini menunjukkan bahwa Pertamina Refinery Unit III Plaju siap mendukung program Pemerintah dan memenuhi security of supply khususnya di daerah Sumbagsel melalui sinergi bersama dengan Marketing Operation Region II Sumbagsel untuk melakukan produksi dan menyalurkan Bahan Bakar Ramah Lingkungan kepada masyarakat ujar," kata Yosua I. M Nababan, GM RU III Plaju.

Pertamina Biosolar B-20 2019

RU III Plaju merupakan salah satu dari 30 lokasi yang ditentukan menerima FAME dengan pertimbangan kebutuhan B-20 untuk Provinsi Sumsel dan Lampung sebanyak 3.500-5.000 KL/hari. Saat ini, secara reguler dapat dipenuhi seluruhnya dari RU III Plaju dengan kapasitas produksi Biosolar sebanyak 180.000-200.000 KL/bulan. Ini merupakan bagian dari upaya Pertamina menjamin ketahanan stok BBM Ramah Lingkungan di pasaran.

RU III sendiri telah melakukan improvement baik dari segi sarfas penerimaan FAME maupun produksi B-20 dalam tempo yang cukup cepat. Kilang RU III mampu mengolah pasokan FAME dari supplier dengan kapasitas 30.000-40.000 KL/bulan. FAME diterima melalui kapal dan disalurkan melalui RPM (Rumah Pompa Minyak) Fuel di area storage tanki untuk dilakukan blending solar sebagai B-20 untuk kemudian di lifting melalui sarfas existing baik via kapal maupun pipeline ke TBBM wilayah Sumsel dan Lampung.

Selain untuk memenuhi Regulasi, injeksi FAME sebanyak 20% ke dalam produk solar dapat memberikan potensi improvement kualitas finish product. Selain itu, spesifikasi BBM hasil campuran itu juga nyatanya lebih tinggi dari solar biasa.

"Keunggulan B-20 ini memiliki CetaNe number diatas 50 yang artinya lebih tinggi bila dibandingkan dengan CetaNe number Solar murni yakni 48. Semakin tinggi angka cetane, semakin sempurna pembakaran sehingga polusi dapat ditekan. Kerapatan energi per volume yang diperoleh juga makin besar. Selain itu, campuran FAME menurunkan sulfur pada produk diesel," tutur Hendrix Eko Verbriono, Pjs. General Manager MOR II saat launching B-20 Pertamina.

Penerapan Bahan Bakar Ramah Lingkungan ini tentunya juga berdampak pada pengendalian angka impor BBM sehingga diharapkan ikut mendukung stabilitas nilai rupiah dan menghemat devisa negara. Melalui pemanfaatan Minyak Sawit ini, selain menyejahterakan Petani Sawit dengan menjaga stabilisasi harga CPO juga mampu mengurangi emisi Gas Rumah Kaca (GRK) sebesar 29% dari Business as Usual (BAU) pada tahun 2030.

Pertamina juga akan terus berinovasi menghasilkan bahan bakar ramah lingkungan diantaranya langsung mengolah CPO di dalam kilang untuk menghasilkan green fuel berupa green gasoline, green diesel dan green avtur. [Ary/Ari]


Komentar