Test Drive Mitsubishi Xpander 2018 Jogja-Semarang Share this
Review Mobil
Mode baca

Test Drive Mitsubishi Xpander 2018 Jogja-Semarang

Indra Prabowo
pada 11 Maret 2018

SEMARANG – Saya, Dani Laksono dan sekian orang lainnya memang telah dibuat penasaran kenapa ribuan orang rela antri menunggu Mitsubishi Xpander berbulan-bulan.

Ini pasti ada apa-apanya.

Memang tidaklah mudah bermain di segmen Low MPV 7-seater karena posisi Toyota Avanza dan saudaranya Daihatsu Xenia sudah sangat kuat sebagai duet perintis yang diluncurkan pada 2004.

Suzuki Ertiga, Chevrolet Spin dan Honda Mobilio dengan tawaran kenyamanan dan berkendara seperti sedan, ground clearance rendah dan penampilan manis pernah dan sampai hari ini terus berusaha menggoyang Avanza dan Xenia, namun tidak sukses. Bahkan, Chevrolet Spin akhirnya dimatikan oleh Chevrolet karena tidak merangsang pasar lebih besar.

Hingga datanglah Xpander yang diniagakan mulai Agustus 2017. Untuk menetaskannya bukanlah pekerjaan mudah, saya pernah mendengar bahwa Mitsubishi ‘bertapa’ sekian lama untuk mengumpulkan data-data kelebihan dan kekurangan para kompetitor. Tsunehiro Kunimoto, Corporate Vice President, Design Division, Mitsubishi Motors, bahkan mengatakan mereka menggali banyak informasi dari pasar mengenai MPV seperti apa yang diidamkan.

Sejak bernama XM Concept, Xpander langsung mendapat sambutan yang sangat baik. Dan itu tercermin dari jumlah surat pemesanan kendaraan (SPK) yang mencapai 55 ribu unit sejak Agustus 2017 – Februari 2018, namun realisasi penjualan baru sekitar 27.000-an unit.

“Tingginya permintaan Xpander mencerminkan betapa mobil ini sangat sesuai dengan kebutuhan para pelanggan kami di Indonesia,” kata Trevor Mann, Chief Operating Officer  Mitsubishi Motors Corporation.

Dia menambahkan bahwa Xpander tidak saja tonggak penting bagi Mitsubishi Motors di Indonesia tapi juga kawasan ASEAN.

Kesan pertama

Dengan desain eksterior Xpander yang tajam dan modern, melebihi para penantangnya dan sekaligus mengejutkan orang-orang. Bagian depan mobil yang memancarkan kesan melindungi para penumpang “Dynamic Shield” ditemui pula seperti halnya di Pajero Sport, Outlander PHEV dan Eclipse Cross.

Bagi sebagian orang, penempatan lampu posisi LED di bagian bonnet dan lampu-utama (headlight) di bumper bawah, terasa ‘konyol’ namun kami justru ini semua merupakan penegasan keberbedaaan Xpander dengan para kompetitornya.

mitsubishi xpander 2018

Beralih ke belakang, bentuknya seksi, di mana menggembung, dan terdapat lampu LED berbentuk huruf “L” yang terpisah dengan lampu rem.

Xpander terlihat lebih jangkung dari kompetitor terdekatnya karena bukan MPV murni. Dia mengawinkan fungsionalitas dengan semangay petualangan SUV, dan tentunya MPV, maka ground clearance-nya dibuat lebih tinggi. Ground clearance Xpander 205 mm atau lebih tinggi 5 mm dari Avanza.

Interior

Beberapa hal menarik perhatian saya selama perjalanan Jogjakarta – Semarang selama 2 hari mengendarai Xpander Ultimate dan Sport. Pertama, Desain dashboard sederhana dan tebal. Kedua interior Ultimate menampilkan two-tone color (beige dan hitam) untuk memancarkan kesan mewah, sementara untuk varian Sport berkelir hitam.

Unsur ketiga dan keempat justru tidak kalah penting karena legroom jok baris kedua lebih baik daripada kompetitornya, selain itu lebih kedap suara ketika melaju (suara dari luar mulai terdengar lebih keras ketika 110 km/jam).

Jok baris kedua menganut pelipatan 60:40, dan sandaran jok tengah baris kedua dapat direbahkan ke depan untuk menjadi arm rest. Sementara jok baris ketiga mengadopsi pelipatan 50:50.

Di dalam kabin terhampar banyak ruang penyimpanan termasuk 16 bottle holder. Pengaturan AC masih menggunakan tombol-tombol putar, sementara distribusi hembusan AC ke kabin tengah dan belakang mengandalkan ventilasi-ventilasi tebal – menurut kami lebih menarik jika lebih ramping. Dan ketika menjadi pengemudi, kita berhadapan meter cluster jernih dan mudah dibaca.

Di jalan raya

Mitsubishi Xpander 2018 dipersenjatai dengan mesin 4A91 1.5-liter 4-silinder MIVEC DOHC bertenaga 104 Nm pada 6.000 rpm dan torsi 141 Nm pada 4.000 rpm, serta dilengkapi dengan transmisi otomatis 4-speed atau manual 5-speed.

Melintasi jalan tol Bawen – Semarang yang berkelok-kelok dan naik-turun bukanlah perkara sulit bagi MPV 7-seater ini. Dengan modal di atas, Xpander dengan mudah melesat hingga kecepatan lebih tinggi, katakanlah 120 km/jam atau lebih, meski pada beberapa kesempatan saya harus bersabar karena saat kick-down transmisi dan mesin butuh waktu untuk bereaksi, namun bukan perkara serius.

Setirnya ringan di berbagai kecepatan. Ini sangat menguntungkan pada kecepatan rendah, bermanuver atau parkir.

Pengaturan suspensi depan MacPherson strut dan coil spring serta belakang torsion beam Mitsubishi Xpander 2018 terasa rigid di beberapa lokasi bumpy yang dilewati oleh kami seperti di jalan tol. Secara kesuruhan suspensinya bekerja dengan baik.

Sepanjang beberapa ratus kilometer kami mengendarai Mitsubishi Xpander 2018, konsumsi BBM (konsumsi bahan bakar minyak) bisa mencapai 11,67 km/liter.

Fitur-fitur keselamatan

Sebagai sebuah Low MPV, Xpander mengantongi beberapa fitur keselamatan dua airbag, Brake Assist (BA), Anti-lock Braking System (ABS), Active Stability Control (ASC), Hill Start Assist (HSA) dan Emergency Stop Signal System (ESS). Struktur tubuhnya monocoque yang dibangun berdasar konsep RISE (Reinforced Impact Safety Evolution).

Pada Januari 2018, ASEAN NCAP memberinya gelar 4-bintang (maksimal 5-bintang) dalam uji benturan.

Kesimpulan

Bagi Anda yang kangen dengan Mitsubishi Kuda namun dalam bentuk modern, lebih irit BBM, dan banyak fitur maka Mitsubishi Xpander 2018 adalah pemuasnya. Bahkan jika dibandingkan dengan beberapa kompetitornya boleh dibilang “standout”.

Saat ini Mitsubishi Xpander 2018 dilepas dengan harga dari Rp 194,1 juta (GLX M/T) – Rp 250 juta (Ultimate A/T). Harga tersebut kompetitif.  [Idr]


Komentar