Sejarah Kopi di Kota New York Share this

Sejarah Kopi di Kota New York

Denny Basudewa
pada 13 Desember 2018

Foto: Starbucks Coffee di pojokan Manhattan

NEW YORK – New York mendapat sebutan kota yang tidak pernah tidur, karena memiliki sejarah panjang dengan minuman yang bernama kopi.

Kopi untuk pertama kalinya tiba di Manhattan pada pertengahan 1600. Kopi kala itu hanya bisa dinikmati oleh segelintir orang istimewa saja. Bisa dibilang kopi merupakan minuman untuk para bangsawan.

Namun ketika koloni melumpuhkan kekuasaan Inggris, arus mulai menunjukkan perubahan. Kebiasaan meminum teh kini menjadi kopi. Minuman bernama kopi kini bisa dinikmati lebih banyak orang baik bangsawan hingga rakyat biasa.

“Ketika koloni mulai menuntut kemerdekaan dari Inggris, minum kopi dianggap sebagai tindakan patriotik. Setelah revolusi, tidak ada jalan tuk kembali yang nyata dan kopi menjadi bagian penting dari kehidupan,” cerita Erin Meister dalam bukunya ‘New York City Coffee : A Caffeinated History’.

Pada awal 1800-an, kota ini tengah menjalani proses sebagai Ibukota kopi negara baru. Ujung selatan Manhattan kemudian dikenal sebagai Distrik Kopi. Penjualan kopi pada daerah tersebut juga berkembang pesat.

Barulah pada akhir 1800-an, untuk pertama kalinya roaster kopi komersial dikembangkan. Begitu banyak pialang saham di daerah tersebut, mencicipi kopi sebelum memulai aktivitasnya.

“Sebelum pusat kota disewakan, Manhattan bawah terus-menerus diselimuti aroma kopi yang khas. Para imigran juga mempengaruhi cara menikmati kopi. Bahkan ada sebuah clubhouse Inggris dengan bilik bertirai yang memadukan roti Jerman dengan kopi manis,” ungkap Meister kemudian.

Pada abad ke-20, aktivitas membuat dan meminum kopi terus tersebar kemana-mana. Kopi ibarat menjadi makanan pokok di berbagai pusat perbelanjaan. Namun jika konsumen ingin menikmati kopi yang lebih nikmat, bisa menyambangi gerai kopi mewah.

Pada 1927 di Greenwich Village, mesin espresso pertama di Amerika Serikat diperkenalkan. Lalu mulai bermunculan rumah-rumah kopi dan gerobak jalan yang menjajakan kopi menggunakan gelas berbahan kertas.

Adapun kemudian salah satunya menjadi terkenal dengan nama Anthora dan menggunakan logo kunci dari bahasa Yunani. Gelas kertas berwarna biru tersebut lalu menyebar luas ke seluruh kota.

“Orang-orang di Manhattan memikirkan kopi dengan dua cara, menikmati espresso di tempat yang sangat terhormat atau secangkir di pinggir jalan. Dalam budaya populer, tidak ada ruang untuk menilai sebuah kopi,” ucap Ric Rhinehart, Chief Executive Officer Specialty Coffee Association.

Akhir pekan ini Starbucks memperkenalkan pengalaman menikmati kopi premium baru. Hal ini dilakukan sebagai penghormatan warisan kota yang terletak di distrik bersejarah. Mereka menciptakan kopi premium dengan nama New York untuk mengenangkan sejarah panjang Starbucks. [Dew/Ari]


Komentar