Pabrikan Jerman Hadapi Kenaikan BBM dan Dollar dengan Jurus Berbeda Share this
Berita Mobil
Mode baca

Pabrikan Jerman Hadapi Kenaikan BBM dan Dollar dengan Jurus Berbeda

Denny Basudewa
pada 12 Oktober 2018

Foto: Tiga pabrikan mobil Jerman

JAKARTA – Mercedes-Benz,BMW dan Audi masih menahan harga produk-produknya, meskipun diguncang oleh kenaikan nilai tukar Rupiah dan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM).

Seperti diketahui bahwa nilai tukar Rupiah terhadap Dollar belakangan ini terus melemah. Hal ini secara otomatis berimbas pada harga barang-barang yang bersangkutan. Tidak terkecuali dengan harga kendaraan yang diimpor dari luar negeri, terutama berasal dari AS.

Baru-baru ini Pertamina mengumumkan kenaikan harga produknya meliputi Pertamax Series dan Pertamina Dex Series. Banderol baru tersebut dipercaya akan berdampak pada semakin lesunya minat konsumen dalam membeli kendaraan, khususnya mobil mewah.

Lalu pertanyaan terbesit kepada tiga pabrikan mobil asal Jerman terhadap kondisi saat ini. Apakah mereka akan menaikkan harga jual produk-produknya atau tetap bertahan. Kedua pilihan tersebut tentunya memiliki efek masing-masing terhadap penjualan.

“Sejauh ini selama 2018 dari Februari kami belum ada koreksi harga. Namun untuk mobil baru kan memang harganya sudah baru. Sepanjang tahun kami ada rentang fluktuasi nilai tukar, selama belum melewati itu kami masih berusaha menahan agar tidak ada perubahan harga,” ungkap Hari Arifianto, Deputy Director Marketing Communication PT Mercedes-Benz Distribution Indonesia (MBDI).

Sama halnya dengan BMW Group Indonesia, sesama pabrikan asal Jerman tersebut hingga saat ini belum menerapkan kenaikan harga. Meskipun terdapat kenaikan harga BBM dan nilai tukar Rupiah beberapa waktu lalu, namun distributor BMW dan MINI di Indonesia tersebut masih menahan harga jual model-modelnya.

“Hingga saat ini belum ada kenaikan untuk BMW dan MINI. Kenaikan harga biasanya diberlakukan di awal tahun. Selain itu sebagian besar kendaraan BMW yang difavoritkan konsumen telah dirakit secara lokal, sehingga belum ada pengaruh dari nilai tukar,” ucap Jodie O’tania, Vice President Corporate Communications BMW Group Indonesia.

Tidak berbeda jauh dengan Audi di bawah naungan PT Garuda Mataram Motor. Meskipun seluruh produk yang ditawarkan merupakan CBU (Completely Bulit-Up), namun pihaknya masih mampu menahan harga jual produk-produknya.

“Kami sejak sebelum IIMS 2018 sudah menaikkan harga produk-produk. Kenaikan harga sendiri sudah kami perhitungkan dengan kemungkinan-kemungkinan yang akan datang,” kata Herry Noverino selaku Marketing and PR Department Manager PT Garuda Mataram Motor.

Secara garis besar kenaikan harga pada awal tahun oleh pabrikan-pabrikan mobil sudah diperhiitungkan secara seksama. Sebagai contoh BMW yang menaikkan harga Seri 5 sebesar Rp 20 juta, sudah meliputi kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi pada 2018.

Paling tidak jika pergerakan nilai tukar Rupiah masih dalam batas toleransi, maka setiap pabrikan kendaraan masih bisa bertahan. Selain itu terhadap kenaikan harga BBM, konsumen di segmen premium pada umumnya tidak terlalu berpengaruh.

Terlebih kendaraan premium dewasa ini telah menggunakan sejumlah teknologi canggih, sehingga penggunaan bahan bakar kendaraan tidak terlalu boros seperti generasi sebelumnya. Salah satunya dengan mengandalkan kubikasi mesin yang digunakan juga semakin kompak. [Dew/Ari]


Komentar