Pelajar dan Mahasiswa Rawan Kecelakaan di Jam-jam Ini Share this
Tips
Mode baca

Pelajar dan Mahasiswa Rawan Kecelakaan di Jam-jam Ini

Muhammad Ikhsan
oleh Muhammad Ikhsan
pada 04 Oktober 2017

Foto: Pelajar dan Mahasiswa Rawan Kecelakaan di Jam-jam Ini

JAKARTA - Pelajar dan mahasiwa yang terlibat kecelakaan di jalan raya cukup miris jumlahnya. Pemerintah Indonesia harus lebih giat mengedukasi para usia muda dalam hal berkendara demi meningkatkan keselamatan di jalan raya.

Data Korps Lalulintas (Korlantas) Mabes Polri (nasional), lakalantas sejak Januari-Mei 2017 sebanyak 37.204 kejadian. Kecelakaan masih didominasi pelajar dan mahasiswa usia 15-24 tahun sebanyak 24.023 jiwa.

Sementara Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) usia 12-15 tahun tercatat 10.052 jiwa. Artinya siswa-siswi SLTP menduduki peringkat kedua penyumbang lakalantas secara nasional.

AKBP Aldo Siahaan, S.IK., Kasi Kemitraan Subdit Dikmas Ditkamsel Korlantas Polri ditemui dalam acara kick-off Michelin Safet Academy 2017 di Jakarta, Rabu (4/10/2017) mengatakan, kondisi ini karena banyaknya pengendara usia muda belum bisa mengatur emosi ketika berkendara. Untuk itu betapa pentingnya mereka mendapatkan edukasi berlalu lintas untuk menyadari betapa bahayanya ketika berkendara.

Jika ditelaah lebih jauh, lakalantas yang melibatkan pelajar dan mahasiswa terjadi mulai pukul 06:00-11:59 atau saat mereka berangkat menuju tempat belajar.

Selanjutnya mulai pukul 12:00-17:59, atau saat para pelajar pulang ke rumah.

Artinya lakalantas lebih sering terjadi pada jam-jam sibuk seperti saat jam berangkat sekolah maupun berangkat kerja dan ketika kembali ke rumah.

Menurut Aldo, banyaknya kasus kecelakaan lalu lintas diawali dengan pelanggaran lalu lintas. Mereka umumnya tidak memahami aturan berlalu lintas yang dampaknya bisa merugikan jiwanya sendiri dan orang lain.

Paling disoroti adalah pelajar dan mahasiswa yang tidak memilik SIM A atau SIM C. Masalah lain masih menjadi pembahasan para orang tua adalah mereka pengendara sepedamotor maupun penumpang yang enggan mengenakan helm.

Menanggapi kondisi ini, Michelin Safety Academy kembali digelar di Indonesia dengan harapan mendukung penanaman budaya berkendara yang aman di kalangan generasi muda.

POLRI berharap pelaksanaan MSA yang berkelanjutan di Tanah Air bisa menurunkan lakalantas khususnya pengemudi usia muda ke depannya.

"Jumlah penurunan kecelakaan belum banyak pengurangan. Namun sebagai petugas kami yakin kalau program ini digelar terus menerus pasti akan membuahkan hasil. Kami positif bahwa hasilnya akan menekan pelanggaran dan angka jumlah kecelakan lalu lintas," tutup Aldo. [Ikh]


Komentar