Kisah Ibu Yati di Posko Pengungsian Tsunami Banten Share this
Berita Mobil
Mode baca

Kisah Ibu Yati di Posko Pengungsian Tsunami Banten

Denny Basudewa
pada 27 Desember 2018

Foto: Dapur Umum Tsunami Banten

BANTEN – Tsunami di wilayah Banten memberikan cerita tersendiri bagi Ibu Yati, dalam berpartisipasi di dapur umum pengungsian.

Empat hari pasca Tsunami di Provinsi Banten dan Lampung, masyarakat masih bertahan di sejumlah posko pengungsian. Musibah ini memporak-porandakan beberapa bangunan dan memakan ratusan korban jiwa. Guna mencegah bencana susulan, warga sekitar yang tidak terdampak juga diwajibkan untuk mengungsi.

"Kami takut tinggal di pinggir pantai, dekat sekali. Khawatir ada tsunami susulan diminta ngungsi sampai aman," ujar Yati salah seorang pengungsi dari kampung Sanghyang, Desa Sukarame, Kecamatan Carita, Pandeglang.

Guna mengisi kekosongan, Ibu Yati yang kerap dipercaya memasak untuk hajatan di kampungnya, bersama-sama dengan 40 warga lain, ikut serta untuk menangani dapur umum perhutani Carita. Setidaknya Ia dan puluhan rekan-rekan lainnya, memasak untuk 200 orang pengungsi dari Kampung Karawang.

“Alhamdulillah ada kegiatan, jadi nggak stress bengong di pengungsian. Ada dapur umum, jadi kami bisa menyajikan masakan untuk sesama pengungsi. Di Posko kita nggak perlu cari makan atau bingung masaknya. Apa yang ada kita makan bareng-bareng. Ada makanan anak-anak juga,” ungkap Yati kemudian.

Dapur umum tersebut dibangun PT Pertamina (Persero) untuk membantu masyarakat di wilayah terdampak bencana di Provinsi Banten. Di Kabupaten Pandeglang, khususnya di Kecamatan Carita, Pertamina telah membangun 4 (empat) dapur umum di Posko Carita yang merupakan lahan milik Perhutani.

“Berkat sinergi dengan BUMN, Pertamina sejak hari kedua telah hadir membawa dan menyediakan bantuan yang sangat mendesak khususnya untuk memenuhi kebutuhan makanan dan minuman bagi pengungsi di Carita,”ujar Dian Hapsari Firasati, Unit Manager Communication & CSR Jawa Bagian Barat, PT Pertamina (Persero). [Dew/Ari]


Komentar