Kendala Nissan Intelligent Mobility di Indonesia Share this

Kendala Nissan Intelligent Mobility di Indonesia

Muhammad Ikhsan
oleh Muhammad Ikhsan
pada 24 Mei 2017

Foto: Nissan Leaf

JAKARTA - PT Nissan Motor Indonesia (NMI) dipastikan tak akan meluncurkan model baru untuk konsumennya tahun ini. Yang ada hanya penyempurnaan wajah atau facelift mobil-mobil yang dijual Nissan di Indonesia.

Saat ini, NMI dalam agenda untuk merealisasikan visi Nissan Intelligent Mobility ke depannya. Intelligent Mobility untuk mobil-mobil global Nissan dengan tiga pilar utama yaitu Intelligent Driving, Intelligent Power dan Intelligent Integration.

Melalui kampanye tersebut, merk otomotif asal Jepang itu berkomitmen untuk menciptakan pengalaman berkendara yang lebih aman, lebih pintar, dan dapat lebih dinikmati oleh para konsumen.

“Kami berkomitmen untuk lebih mengambil peran dalam menangani isu-isu yang semakin penting di masa mendatang, seperti perubahan iklim, kemacetan, kecelakaan, serta peningkatan polusi udara. Melalui visi Intelligent Mobility, produk Nissan yang ada saat ini dan yang nantinya akan dikenalkan, dirancang untuk membantu mengatasi beberapa tantangan tersebut,” kata Eiichi Koito, Presiden Direktur NMI di Jakarta.

Menurut Koito, Intelligent Mobility adalah pembeda antara Nissan dengan merek lain. Namun pekerjaan berat karena Indonesia adalah negara kepulauan dan pegunungan. Kondisi ini tidak mudah untuk menerapkan Intelligent Mobility di mana di dalamnya termasuk teknologi mobil bergerak otomatis (mobil otonom).

Berbeda halnya jika di kota-kota besar seperti Ibukota Jakarta, Surabaya, Palembang atau Medan. Infrastruktur penunjang Intelligent Mobility bisa dengan mudah diaplikasikan.

"Intelligent Mobility itu sebenarnya DNA Nissan yang sudah kuat dan ada sejak lama, hanya bagaimana kami mengkomunikasikannya. Elemen mana yang bisa kami terapkan (di Indonesia), itu sesuatu yang harus kami pikirkan," jelas Budi Nur Mukmin, General Manager Marketing Strategy and Communication Division PT NMI.

"Dan Intelligent Mobility itu penerapan di Indonesia harus bertahap karena banyak hal yang harus dipertimbangkan. Salah satu basic fundamental yang mungkin menjadi halangan di Indonesia yaitu infrastruktur. Kalau kami lihat teknologi propilot yang memabca infstruktur jalan, misalnya di Indonesia banyak pengamen apakah propilot bisa 100 persen diterapkap di Indoensia? Ini yang harus kami pertimbangkan."

Namun kondisinya bisa lebih cepat jika sekedar menerapkan Intelligent Driving dalam hal ini melalui fitur-fitur yang telah ada dalam produk unggulan Nissan seperti Active Ride Control, Active Trace Control, Active Engine Brake, Nissan Safety Shield, Xtronic CVT Advanced Technology, Hands Free Power Door dan Hill Start Assist. [Ikh]


Komentar