Honda Patenkan Mesin dengan Volume Silinder Berbeda Share this

Honda Patenkan Mesin dengan Volume Silinder Berbeda

Muhammad Ikhsan
oleh Muhammad Ikhsan
pada 10 Mei 2016

Foto: Honda mencoba menciptakan mesin baru untuk perkembangan dunia otomotif

TOKYO - Perkembangan terknologi otomotif terus berkembang. Selama ini, untuk mesin mobil umumnya hanya ada dua cara kerja yaitu mesin 2-tak atau mesin 4-tak untuk menjawab borosnya konsumsi bahan bakar minyak kendaraan.

Ke depan akan banyak inovasi lain, seperti Honda lakukan pada ujicoba baru-baru ini menggunakan mesin dengan volume silinder berbeda. Konsep tersebut menarik salah satu pabrikan besar asal Jepang itu yang dikabarkan telah mengajukan hak cipta ke kantor paten Jepang.

Disebut-sebut itu adalah generasi mesin terbaru dari Honda, setelah Honda gencar menampilkan pemacu jantung pacu 'turbo' pada beberapa modelnya di dunia.

Nah, untuk mesin dengan volume silinder berbeda cukup menarik untuk dibahas.

Umumnya setiap volume silinder dalam satu mesin sama, namun yang dikembangkan Honda sebaliknya. Contohnya pada mesin 2.000cc, biasanya menyuguhkan empat-silinder yang masing-masing memiliki volume silinder 500cc atau mesin 1.500cc dengan empat-silinder yang masing-masing volume silinder 375cc.

Dan yang sedang dikembangkan Honda kali ini memiliki volume silinder berbeda, bahkan jumlah silinder atau susunan silinder bisa berubah tidak seperti biasanya.

Misalnya untuk mesin 2.000cc, dalam menentukan jumlah silinder Honda bisa meletakkan tiga-silinder dengan komposisi silinder 1 bervolume 1000cc, dan sisanya bervolume masing-masing 500cc.

Tapi konsep tersebut tidak maksimal pada mesin 2.000cc dengan dua-silinder karena volume silinder akan sama persis. Jadinya minimal menggunakan tiga-silinder untuk mesin 2.000cc.

Improvement lain yang dilakukan Honda yaitu akan menyematkan teknologi beberapa silinder mati pada kondisi tertentu. Jenis mesin ini boleh diakui demi meningkatkan efisiensi bahan bakar. Tapi Honda tidak mengungkapkan apa tujuan dari ide tersebut. [Ikh/Idr]


Komentar