FIFGroup Bicara Peluang Kredit DP 0 Persen Sepeda Motor Honda

Honda PCX Laris di IMOS 2018

JAKARTA – Federal International Finance (FIFGroup) menjelaskan bahwa kredit dengan uang muka (Down Payment/DP) 0 persen bagi sepeda motor Honda cukup sulit terwujud.

FIFGroup merupakan anak perusahaan PT. Astra International (Grup Astra) yang bergerak di bidang pembiayaan. Mereka didirikan untuk menyokong penuh pembiayaan sepeda motor Honda di Indonesia.

Sutjahja Nugroho, Direktur Human Capital, General Service, and Corporate Communication FIFGroup menjelaskan bahwa hingga kini pihaknya belum memikirkan atau berencana menyediakan program DP 0 persen. Selain karena rencana Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengizinkannya hingga saat ini masih berupa wacana, risikonya pun cukup besar.

“Pada saat kami memberikan pembiayaan, kan, kami melihat risikonya, mana yang lebih terprediksi,” ujar Nunu, sapaan akrabnya, dalam Media Gathering pada akhir pekan lalu di Kemang, Jakarta.

Sekedar mengingatkan, OJK beberapa waktu lalu melempar wacana menerbitkan aturan revisi POJK No. 29/POJK.05/2014. Melalui regulasi ini, perusahaan leasing diizinkan memberikan DP 0 persen bagi pembelian mobil atau sepeda motor secara kredit. Hanya saja, ada syarat-syarat yang mesti dipenuhi seperti tingkat kredit macet (non-performing loan/NPL) tidak boleh memenuhi persentase tertentu.

Nunu menjelaskan, DP 0 persen nantinya berdampak pada angsuran bulanan yang membesar. Sementara, profil konsumen sepeda motor mayoritas adalah masyarakat kelas menengah ke bawah.

“Ketika memutuskan membantu pembiayaan, perhitungan kami adalah orang itu mampu dalam mengembalikan pinjamannya. Dengan DP kecil sekali atau bahkan 0 persen berarti angsuran per bulannya akan tinggi sekali. Padahal kalau bibcara konsumen pembiayaan sepeda motor, tidak semuanya punya kemampuan ekonomi menengah ke atas. Kebanyakan dari mereka malah menengah ke bawah,” paparnya.

Saat Otospirit.com menanyakan mengenai nilai pembiayaan sepeda motor FIFGroup pada Januari – Oktober tahun ini, Nunu mengaku bahwa mereka masih melakukan finalisasi perhitungan. Begitu juga dengan tingkat NPL pada 10 bulan pertama.

“Tahun ini targetnya naik dari tahun lalu. Target kami di atas Rp 2 triliun. Realisasi tahun kemarin  sekitar Rp 2,1 triliun. Kami ingin capai sekitar Rp 2,2 triliun. Enggak terlalu banyak kenaikannya,” sebut Nunu. [Xan/Ari]