Asal-usul Julukan 6 Generasi Toyota Kijang Share this
Berita Mobil
Mode baca

Asal-usul Julukan 6 Generasi Toyota Kijang

Insan Akbar
pada 29 April 2020

JAKARTA – Kijang adalah model paling legendaris Toyota di Indonesia. Enam generasi Kijang telah hadir, dengan berbagai julukan yang diberikan masyarakat kepadanya.

Kelahiran Kijang tak bisa dilepaskan dari keinginan pemerintah pada 1970-an memiliki Kendaraan Bermotor Niaga Sederhana (KBNS), kendaraan serbaguna yang mampu dijangkau segala lapisan masyarakat. Toyota Kijang pun lahir sebagai salah satu KBNS pada 9 Juni 1977.

Asal-muasal nama Kijang sendiri memiliki banyak versi. Ada yang mengatakan nama itu ialah akronim dari ‘Kerja Sama Indonesia-Jepang’.

Namun, menurut penjelasan tertulis PT. Toyota Astra Motor (TAM) dan PT. Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) kepada Mobil123.com, namanya terinspirasi mobil bernama ‘Tamaraw’ yang artinya Kerbau di Filipina. Legenda Kijang di Nusantara pun mulai dimulai.

Generasi Pertama: ‘Kijang Buaya’
Kijang generasi pertama muncul sebagai sebuah pikap. Tetapi, masyarakat kemudian melirik potensi lainnya untuk mengantar keluarga, akibat kabin lapangnya jika dibuat menjadi mobil penumpang serta mesin terletak di depan yang memberikan rasa aman.

Perusahaan-perusahaan karoseri menangkap peluang ini dengan membuatkan karoseri minibus bagi Kijang. Dari sini lah awal legenda model ini sebagai mobil keluarga para ‘wong cilik’ dimulai.

Aspek paling diingat dari generasi pertama antara lain pintu yang menggunakan terpal alih-alih kaca untuk ventilasi. Generasi ini dijuluki ‘Kijang Buaya’ lantaran struktur kap mesin yang overlap ke sisi samping bodi sehingga saat dibuka bentuknya mirip buaya sedang menganga.

Dari Buaya ke Doyok
Generasi kedua muncul pada September 1981. Perubahan-perubahan dilakukan demi membuatnya makin nyaman dan layak disebut mobil keluarga. Bodinya lebih halus, letak engsel pintu pun sudah tersembunyi.

Ciri khas ‘buayanya’ sudah hilang karena kap mesin pada generasi kedua hanya membuka di bagian atas moncong. Gril depan serta permukaan pintu telah pula sejajar dengan bodi. Sistem penggerak diperbarui dengan mesin bensin 5K 1.500 cc beperforma lebih baik.

Yang tak kalah penting, terpal pada ventilasi digantikan dengan kaca jendela. Bukaan pintu tak lupa dibuat lebih nyaman.

Hanya saja, timbul julukan baru baginya dari masyarakat yaitu ‘Kijang Doyok’. Ini semua gara-gara sosok mengotak, kerempeng, dan ‘bergigi mancung’ padanya mengingatkan publik pada tokoh kartun populer Doyok di Harian Umum Pos Kota.

Kijang Super, Cucu Kijang Buaya
Kehadiran generasi ketiga sebagai ‘cucu’ dari Kijang Buaya, yang dimulai pada 1986, menandai perubahan strategi pemasaran Kijang dari mobil niaga ke benar-benar mobil penumpang. Generasi ini disebut sebagai ‘Kijang Super’ yang hadir dalam dua versi yakni sasis pendek (KF40) dan panjang (KF50).

Beberapa terobosan dipergunakan Toyota pada proses produksi generasi ketiga. Salah satunya  teknologi full pressed body yang dapat mengurangi 2-5 kg dempul per mobil.

Pada 1992, salah satu pabrikan terbesar sejagad ini menghadirkan penyempurnaan dari Kijang Super yang dipasarkan dengan nama Kijang Grand Extra. Ciri khas paling kentara darinya ialah stiker horizontal bertuliskan ‘Grand Extra’ di sepanjang kiri-kanan bodi.

Kijang Grand Extra dibuat bermodal teknologi Toyota Original Body, menjadikannya minibus pertama berkualitas bodi bebas dempul setara sedan. Eksterior dibuat lebih modern plus dinamis, dengan modifikasi pada interior seperti perubahan desain dasbor dan penyematan AC Double Blower.

Dari sisi teknis, Kijang Grand Extra mengalami penyempurnaan karburator. Mesinnya pun diganti dari 5K 1.500 cc menjadi 7K 1.800 cc.

Kijang Kapsul
Generasi keempat Kijang lahir pada 1997. Lekuk-lekuknya yang tak setajam dulu dan menggembung membuatnya dijuluki sebagai ‘Kijang Kapsul’.

Di era Kijang Kapsul ini pertama kali muncul varian diesel dan transmisi otomatis pada Kijang. Pada 2000, Toyota menghadirkan Kijang Kapsul bermesin Electronic Fuel Injection (EFI) dengan dua pilihan kapasitas yaitu 1.800 cc maupun 2.000 cc dengan penyegaran pada bentuk lampu, bemper, dasbor.

Dua tahun setelahnya, Toyota menghadirkan versi facelift dengan modifikasi pada grille, lampu depan, lampu belakang dilengkapi garnish.

Innova (Generasi 5 dan 6)
Generasi kelima MPV ini diperkenalkan pada 2004 dan menjadi yang pertama menggunakan tambahan kata ‘Innova’ di belakang nama Kijang. Hal tersebut terus berlangsung sampai generasi keenam.

Generasi kelima menjadi tonggak penting karena mulai dari sini Toyota memasukkan Kijang ke dalam program Innovative International Multi Purpose Vehicle (IMV). Meski tampilannya sudah jauh berbeda, ada garis merah yang masih terus terus tersambung dari generasi pertama hingga generasi ini yaitu penggunaan sasis ladder.

Pada generasi ini, mulai terdapat sejumlah teknologi khas abad ke-21 semisal mesin berteknologi VVT-i, diesel common rail, multi information display (MID), atau airbag.

Generasi keenam Kijang, yang masih dipasarkan hingga detik ini, lahir 11 tahun setelah generasi kelima hadir. Di generasi ini, Toyota mulai mengubah konsepnya menjadi Multi-Performance Vehicle pada desain maupun fitur demi mewujudkan nilai-nilai baru konsumen mereka yang kini adalah keluarga kelas menengah.

Apalagi, perannya sebagai mobil keluarga untuk wong cilik telah makin tergantikan oleh MPV lain, Avanza, yang muncul pada 2004.

Generasi keenam didesain dengan pendekatan lebih stylish plus modern. Pendekatan ini diperkuat melalui kehadiran model tertinggi, Venturer, pada 2017.

Kijang Innova termutakhir dibekali mesin bensin 2.000 cc Dual VVT-i atau mesin diesel 2.400 cc VNT with Intercooler. Tipe mesin ini ditawarkan dalam tiap varian yaitu G, V, Q, maupun Venturer. Tiap-tiap varian juga mempunyai opsi transmisi manual maupun otomatis. [Xan/Ari]


Komentar